Timun Jelita Raditya Dika Vincent pernah ditinggal menikah oleh perempuan yang dicintainya. Meski tak menganggap hal itu sebagai pengalaman traumatis, dia tidak tertarik menjalin hubungan serius apa pun. Hingga dia bertemu dengan Masha. Masalahnya, gadis itu masih belia, lebih muda sembilan tahun dibanding Vincent. Apalagi, Masha berencana pulang ke Bali dan meninggalkan Bogor setelah menjadi sarjana. Namun, Masha terlalu menawan untuk diabaikan, terlalu berharga untuk dilepaskan. Hingga keduanya sepakat untuk menikah. Namun, menikah ternyata tak seindah kisah-kisah di novel atau film romantis. Menikah adalah medan perang lain yang harus mereka taklukkan. Saat itu, Vincent dan Masha menyadari satu hal. Bahwa perbedaan usia adalah masalah paling sepele yang harus mereka hadapi! Review Born to Love you menyajikan kisah cinta beda usia antara Vincent dan Masha, dengan cara yang dewasa, hangat, dan terkadang membuat dada sesak. Cerita ini tidak hanya fokus pada tahap jatuh cinta, tapi juga bagaimana dua orang dengan latar dan usia yang berbeda belajar dan bertumbuh Bersama. Indah Hanaco berhasil membawa pembaca melihat cinta dari kacamata yang lebih kompleks. Tidak hanya soal perasaan, tapi juga tentang kepercayaan, komunikasi, dan keberanian membuka hati. Satu hal yang membuat ceritanya hidup adalah alurnya yang maju-mundur. Cerita utama berjalan maju, tapi sesekali pembaca diajak mundur ke masa lalu Vincent—khususnya soal pengalaman pahitnya dengan Mindy, mantan yang meninggalkan luka besar. Teknik ini membuat pembaca semakin paham kenapa Vincent terlihat begitu hati-hati, bahkan takut, ketika mulai dekat sama Masha. Alih-alih membingungkan, alur ini justru ngebantu pembaca membangun empati. pembaca jadi ngerti bahwa cinta yang datang sekarang tidak bisa dilepaskan dari luka yang pernah ada. Dan dari sanalah, pelan-pelan Vincent belajar: bahwa Masha bukan masa lalunya, dan dia pantas mendapatkan kesempatan baru. Cerita ini mengambil setting utama di dua tempat: Bogor dan Bali. Keduanya tidak sekadar jadi latar, tapi juga punya “napas” yang ikut membentuk karakter. Bogor jadi tempat Vincent dan Masha pertama kali bertemu. Lalu Bali, tempat asal Masha, yang menjadi ruang kontemplasi dan ujian jarak bagi keduanya. Perpindahan setting ini memberi warna berbeda, seperti dua babak dalam satu film. Dan yang membuat makin hidup, detail-detail tempatnya ditulis cukup nyata, membuat pembaca seolah bisa mencium bau hujan di Bogor dan merasakan angin laut di Bali. Tema hubungan beda usia sering kali dikemas klise atau terlalu dramatis. Tapi Born to Love You menyajikannya dengan realistis. Perbedaan usia itu nyata, dan tantangannya juga banyak—mulai dari cara mikir, nilai hidup, sampai tekanan dari luar. Belum lagi ketika Masha harus kembali ke Bali dan mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Di sinilah konflik makin tajam. Tapi yang menarik, konflik-konflik ini tidak dibuat lebay. Justru terasa masuk akal dan dekat dengan keseharian. Born to Love You adalah kisah cinta yang hangat tapi juga mengajak pembaca berpikir—tentang luka masa lalu, tentang keberanian untuk mencintai lagi, dan tentang cinta yang dewasa. Gaya tulisannya enak dibaca, tidak bertele-tele, dan emosinya dapet. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Teka Teki Empat Pemburu Harta Karun
Teka Teki Empat Pemburu Harta Sir Arthur Conan Doyle Mary Morstan mendatangi Sherlock Holmes untuk meminta bantuannya memecahkan sebuah misteri. Sepuluh tahun yang lalu, ayah Mary, Kapten Arthur Morstan, kembali ke London dengan mengambil cuti dari resimennya di India. Katanya, di sana ia dan seorang temannya, Thaddeus Sholto, mendapatkan harta karun yang sangat besar jumlahnya. Tapi ketika Mary tiba di hotel tempat ayahnya tinggal, sang ayah sudah lenyap tanpa jejak. Sherlock Holmes menyambut misteri ini sebagai tantangan menarik. Lebih menarik daripada kokain yang telah membuatnya ketagihan bila sedang tak ada kegiatan. Dan kali ini pun Dr. Watson menyertainya, terutama karena ia sangat tertarik pada Mary Morstan yang di matanya begitu memesona. Review Holmes merasa perlu menyuntikkan kokain ke dirinya sendiri gara-gara otaknya yang tidak bisa diam terpaksa harus diam karena tidak ada kasus, membuat temannya, Watson yang juga seorang dokter merasa sangat khawatir. Untunglah kekhawatiran Watson tidak berlangsung lama. Mrs. Mary Morstan datang dengan kasus rumitnya yang membuat otak Holmes punya kerja. Mary Morstan mengalami kejadian aneh. Ayahnya yang berjanji menemuinya, hilang tidak ada kabarnya. Enam tahun kemudian ada iklan aneh yang meminta alamat Mrs. Mary Morstan dan mengirimkan kalung mutiara yang besar dan indah kepadanya. Sejak itu setiap tahun Mary Morstan mendapat kiriman mutiara. Di hari yang sama ketika ia menemui Holmes, Mary Morstan mendapat surat yang menyuruhnya untuk datang ke Teater Lyceum dan dia diizinkan untuk membawa dua orang teman. Jadilah bersama Holmes dan Watson. Marry pergi ke tempat tersebut dan dibawa ke sebuah rumah dimana seseorang yang bernama Thaddeus Sholto, seorang pria kecil yang selalu gugup sudah menunggu. Thaddeus Sholto menceritakan bahwa ayahnya dan ayah Marry mendapat harta karun dalam jumlah besar di India. Mereka bertengkar dalam pembagian harta tersebut dan menyebabkan ayah Marry meninggal karena serangan jantung. Ayah Sholto menyembunyikan harta karun tersebut namun ia meninggal sebelum sempat memberitahukan dimana letak harta karun itu. Di malam ia meninggal, kamarnya digeledah oleh seseorang dan meninggalkan kertas yang bertuliskan ‘Tanda Empat’. Namun, ketika mereka mendatangi rumah Bartholomew, mereka menemukan Bartholomew meninggal dalam ekspresi yang sangat ganjil. Thaddeus Sholto dijadikan tersangka oleh Athelney Jones (Detektif setempat dengan kadar omong kosong yang tinggi) Leave a Comment Cancel reply Logged in as rahmah khalidah. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
The ABC Murder
The ABC Murder Agatha Chrtistie A. adalah Andover, tempat Mrs. Ascher ditemukan tewas setelah dipukul hingga mati. B. adalah Bexhill, lokasi di mana Betty Barnard ditemukan tewas akibat dicekik. C. adalah Churston, tempat Sir Carmichael Clarke ditemukan terbunuh. Di dekat tubuh setiap korban, ditemukan sebuah buku Panduan Kereta Api ABC yang terbuka di halaman yang menunjukkan lokasi pembunuhan. Polisi tampak kewalahan menghadapi kasus ini. Namun, si pembunuh membuat satu kesalahan fatal — ia berani menantang Hercule Poirot untuk mengungkap identitasnya. Bagaimana kelanjutan kisah ini? Review Pembunuhan selanjutnya kembali terjadi dan terkuak, kali ini korbannya adalah seorang wanita muda yang ditemukan tewas akibat dicekik di pinggir dekat pantai. Dilanjutkan dengan pembuhan ketiga, dengan korban seorang lelaki yang tewas dengan cara ditikam. Pembunuhan pertama terjadi di Andover, dengan korban bernama Mrs. Ascher. Pembunuhan kedua dan ketiga juga menunjukkan hal yang sama, tempat kejadian serta nama para korban yang tewas terbunuh sesuai dengan urutan huruf abjad, yaitu B dan C. Lalu, apakah pembunuhan keempat terjadi dan nama korban serta tempat terjadinya peristiwa juga akan diawali dengan huruf D? Membaca cerita Agatha Christie berjudul The ABC Murders atau Pembunuhan ABC ini benar-benar membuatku diajak untuk berpikir. Cerita dalam The ABC Murders ini menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Hastings, sahabat karib M. Hercule Poirot. Mereka berdua bekerja sama untuk menuntaskan kasus pembunuhan yang melibatkan urutan abjad dan buku panduan kereta api itu. Benar-benar kisah yang sangat epik dan menegangkan! Ada beberapa bab yang tidak berasal dari sudut pandang Hastings, dan pada bab-bab inilah para pembaca diajak untuk menebak serta berspekulasi siapa sebenarnya dalang dibalik pembunuhan yang unik dan tidak biasa ini. Benarkah pelaku sebenarnya adalah seseorang dengan gangguan kejiwaan, atau dengan kata lain maniak terhadap hal-hal tertentu? Seperti biasa, plottwist yang disajikan Agatha Christie dalam novelnya selalu di luar dugaan, di luar ekspektasi para pembaca. Setiap hal yang awalnya terlihat berdiri sendiri dan tidak saling terhubung dalam The ABC Murders, ternyata di akhir memiliki benang merah dan saling terkait satu sama lain. Di akhir bab dari The ABC Murders, kejadian detailnya diceritakan kembali oleh M. Hercule Poirot. Di sini, M. Hercule Poirot mengakui bahwa lawannya benar-benar tidak bisa diremehkan. Leave a Comment Cancel reply Logged in as rahmah khalidah. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
24 Jam Bersama Gaspar
24 Jam Bersama Gaspar Sabda Armandio Kisah dimulai ketika Gaspar akan meninggal dalam 24 jam dan mempunyai ambisi untuk membalaskan dendam kepada orang yang menghilangkan sahabat kecilnya, Kirana. Gaspar merupakan seorang detektif yang sejak kecil hanya tinggal bersama Babaji, laki-laki asing yang membesarkannya. Hidup tanpa kedua orang tua, membuatnya begitu kesepian dan menginginkan seorang teman. Pertemuan Gaspar kecil dan Kirana menjadi hal yang begitu berharga bagi dirinya. Hingga kemudian, sahabatnya itu menghilang secara tiba-tiba. Duka kehilangan sahabat, membuat Gaspar tumbuh dengan berbagai tanda tanya untuk mencari Kirana. Ia mengumpulkan berbagai petunjuk yang membawanya pada Wan Ali, ayah Kirana. Review Bayangkan hidupmu hanya tersisa 24 jam. Di tengah kesadaran bahwa waktu hampir habis, apa yang ingin kamu selesaikan? Apa yang masih menggantung di masa lalu? Dalam novel 24 Jam Bersama Gaspar, Sabda Armandio menyuguhkan kisah yang penuh ironi dan absurditas tentang seorang pria yang mencoba menyelesaikan misi hidupnya: mencari kebenaran tentang sahabat masa kecilnya, Kirana, yang hilang entah ke mana. Gaspar bukan tokoh yang mudah dicintai, namun justru karena itu ia terasa sangat manusiawi. Sebagai detektif, ia tidak tampil seperti tipikal pahlawan: ia sinis, penuh luka, dan terkadang tampak tidak peduli. Tapi justru di balik ketidakpedulian itulah, tersembunyi perasaan bersalah dan duka mendalam akan masa lalu. Gaspar adalah potret manusia yang gagal berdamai dengan kehilangan. Sejak kecil, Gaspar hidup tanpa orang tua, diasuh oleh Babaji—sosok tua yang misterius dan jauh dari figur ayah ideal. Dalam dunia yang sunyi dan aneh, Kirana hadir sebagai satu-satunya teman yang membuat Gaspar merasa hidup. Maka ketika Kirana tiba-tiba menghilang, seluruh dunianya hancur. Ia tumbuh besar membawa pertanyaan yang tak pernah dijawab, hingga akhirnya di detik-detik menjelang kematiannya, ia memilih untuk mencari jawaban—sekaligus membalaskan dendam. Sabda Armandio menulis dengan gaya yang khas: eksentrik, sarkastik, kadang surealis, dan penuh lapisan makna. Buku ini bukan hanya thriller atau misteri pencarian, tapi juga refleksi eksistensial yang getir dan absurd. Dunia dalam 24 Jam Bersama Gaspar dibangun dengan atmosfer yang aneh, penuh orang-orang eksentrik, organisasi mencurigakan, serta potongan masa lalu yang mengabur antara nyata dan rekayasa. Apa yang membuat buku ini begitu menarik adalah bagaimana waktu menjadi narasi itu sendiri. Kita tahu sejak awal: Gaspar akan mati. Tapi ini bukan cerita tentang bagaimana ia mati, melainkan mengapa ia ingin mati dalam keadaan sudah menyelesaikan urusannya. Ini tentang keadilan yang selalu datang terlambat. Tentang luka masa kecil yang membusuk karena tak pernah diberi tempat untuk sembuh. Dan tentang cinta—atau tepatnya kehilangan cinta—yang tidak pernah bisa diganti oleh siapa pun. Pertemuan Gaspar dengan Wan Ali, ayah Kirana, menjadi titik penting dalam cerita. Namun buku ini tidak menawarkan resolusi manis. Justru sebaliknya, pembaca diajak menerima bahwa tidak semua misteri bisa dijelaskan, tidak semua dendam bisa diselesaikan. Dan bahwa jawaban kadang tidak lebih memuaskan daripada ketidaktahuan. Gaya penulisan Sabda yang lugas dan penuh ironi membuat pembaca terus terpancing untuk menyelami isi kepala Gaspar. Monolog dalam narasi internal tokohnya kerap lucu, sinis, sekaligus menyedihkan. Seolah Gaspar bukan hanya bicara pada dirinya sendiri, tapi juga pada kita—pembaca yang diam-diam mungkin juga sedang mencari “Kirana”-nya masing-masing. Kesimpulan: 24 Jam Bersama Gaspar adalah novel yang sulit dikotakkan ke dalam satu genre. Ia adalah noir, thriller, sekaligus eksistensial dan absurd. Ini adalah bacaan yang menantang, namun sangat memuaskan bagi pembaca yang menyukai cerita gelap, karakter kompleks, dan narasi yang melompat-lompat antara kenyataan dan keanehan. Gaspar mungkin hanya punya 24 jam, tapi perjalanan batinnya akan tinggal lama di kepala pembaca. Bukan karena jawabannya, tapi karena pertanyaan-pertanyaannya yang terasa familiar: tentang kehilangan, kesepian, dan bagaimana manusia kadang mati bukan karena waktu, tapi karena luka yang tak pernah sembuh. Leave a Comment Cancel reply Logged in as meisya zahra. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Petjah
Petjah Oda Sekar Ayu Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaannya pun dikabulkan semesta. Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini. Biru. Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru? Satu dari seribu, aku mau kamu. Adalah puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya. Satu dari seribu, memang harus kamu. Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya. Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah. Review Petjah karya Odi Sekar Ayu adalah kisah patah hati yang dibalut dengan nuansa magis dan puitis, tentang cinta yang tak terbalas, keajaiban semesta, dan pilihan hati yang menyakitkan. Nadhira mencintai Dimas, namun cintanya tidak pernah diinginkan. Saat semesta memberi satu kesempatan untuk mewujudkan keinginannya, Nadhira meminta Dimas—beserta hatinya. Permintaan itu dikabulkan, tetapi semesta, seperti biasa, tak pernah memberi tanpa konsekuensi. Kehadiran Biru, sosok yang tulus mencintai Nadhira, memperumit situasi emosional yang sudah rapuh. Dalam permainan takdir ini, Nadhira dihadapkan pada dilema antara cinta pertama yang selalu ia harapkan, dan cinta baru yang perlahan hadir dengan ketulusan. Lewat gaya bahasa yang sederhana tapi menyayat, Odi Sekar Ayu menulis dengan jujur tentang patah hati yang tidak menggelegar, tapi diam-diam menghancurkan. Kalimat-kalimat dalam Petjah terasa seperti serpihan puisi yang bicara langsung pada hati—tentang harapan, kehilangan, dan ketidakpastian. Buku ini bukan hanya tentang cinta segitiga, tetapi tentang bagaimana semesta menguji batas hati seseorang. Untuk para pembaca yang pernah mencintai terlalu dalam, atau berharap pada sesuatu yang tak pernah pasti, Petjah akan terasa begitu dekat—dan menyakitkan. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
The Devotion of Suspect
The Devotion of Suspect X Keigo Hashino Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu. Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami. Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja. Review The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino adalah sebuah mahakarya dalam genre misteri dan kriminal yang tidak hanya menyajikan teka-teki pembunuhan, tetapi juga menggali sisi terdalam dari pengorbanan dan cinta dalam diam. Kisah ini berpusat pada Ishigami, seorang guru matematika jenius dan penyendiri, yang diam-diam jatuh hati pada tetangganya, Yasuko Hanaoka. Ketika Yasuko secara tidak sengaja membunuh mantan suaminya yang kasar, Ishigami menawarkan bantuan untuk menutupi kejahatan itu dengan rencana yang sangat cermat dan penuh perhitungan. Di sisi lain, penyelidikan kasus ini melibatkan Yukawa, seorang fisikawan dan teman lama Ishigami, yang perlahan mencium adanya kejanggalan dalam kasus ini. Higashino menyusun alur cerita dengan sangat rapi, menghadirkan ketegangan intelektual yang kuat dan plot twist yang begitu emosional serta mengejutkan di akhir cerita. Gaya penulisannya sederhana namun efektif, membawa pembaca larut dalam dinamika psikologis tokoh-tokohnya. Karakter Ishigami tampil sangat kuat, tidak hanya karena kejeniusannya, tetapi juga karena kedalaman emosinya yang menyentuh. Alih-alih bertanya “siapa pembunuhnya?”, novel ini justru mengajak pembaca menyelami pertanyaan “sejauh mana seseorang rela berkorban demi orang yang dicintainya?”. The Devotion of Suspect X adalah novel yang memadukan misteri, tragedi, dan keindahan dalam satu cerita, menjadikannya salah satu bacaan paling berkesan dalam fiksi kriminal kontemporer. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Bumi Manusia
Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia menceritakan kisah Minke, seorang pemuda pribumi terpelajar di era Hindia Belanda yang berusaha mencari jati diri di tengah tekanan kolonialisme. Ia hidup di antara dua dunia: dunia kaum terjajah yang ditindas dan dunia Eropa yang menjanjikan kemajuan, tetapi sarat diskriminasi rasial. Segalanya berubah ketika Minke jatuh cinta pada Annelies, putri dari Nyai Ontosoroh—seorang wanita pribumi kuat dan berpendidikan, meski berstatus sebagai gundik. Hubungan cinta mereka menghadapi tantangan hukum dan sosial karena ketidakadilan sistem kolonial. Melalui konflik yang dihadapi Minke dan keluarganya, novel ini menggambarkan kebangkitan kesadaran nasional dan pentingnya pendidikan serta keberanian dalam melawan ketidakadilan. Bumi Manusia bukan sekadar kisah pribadi, melainkan refleksi atas kondisi bangsa yang terjajah namun mulai bangkit menuju kemerdekaan. Review Bumi Manusia adalah karya monumental dari Pramoedya Ananta Toer yang membuka rangkaian tetralogi Buru. Novel ini merupakan perpaduan antara sejarah, biografi, dan kritik sosial yang dikemas dalam bentuk naratif yang kuat dan mendalam. Ditulis saat Pramoedya dipenjara tanpa pengadilan di Pulau Buru, novel ini merupakan bukti kekuatan intelektual dan perlawanan melalui kata-kata. Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada tokoh utamanya, Minke, yang diilhami dari tokoh nyata Tirto Adhi Soerjo, seorang pelopor pers dan nasionalisme Indonesia. Minke adalah gambaran pemuda terpelajar yang terjebak antara dua dunia: dunia pribumi yang tertindas dan dunia Eropa yang menjanjikan kemajuan namun sarat diskriminasi. Lewat narasi Minke, pembaca diajak menyelami konflik batin, identitas, dan perjuangan intelektual seorang pribumi di tengah sistem yang tidak adil. Tokoh Nyai Ontosoroh juga memberikan kekuatan moral dan intelektual yang luar biasa dalam novel ini. Meskipun “nyai” dalam struktur sosial kolonial dipandang hina, Pramoedya justru membalikkan stigma itu dengan menjadikan Nyai sebagai simbol perempuan kuat, berdaya, dan mandiri. Karakternya mencerminkan kritik tajam terhadap patriarki, feodalisme, dan kolonialisme sekaligus. Ia adalah contoh bagaimana perempuan dapat menjadi pelopor kebebasan dan pendidikan. Secara tematik, Bumi Manusia menyoroti persoalan ketimpangan hukum, pendidikan, rasisme, dan hak asasi manusia. Pramoedya menggambarkan bagaimana hukum kolonial digunakan sebagai alat penindas, bukan pelindung, terutama terhadap kaum pribumi. Konflik yang dialami Minke dan Annelies menjadi cermin betapa sulitnya memperjuangkan hak bahkan dalam hal-hal pribadi seperti cinta dan keluarga. Gaya bahasa Pramoedya padat, filosofis, dan reflektif. Ia menulis dengan penuh empati terhadap nasib rakyat kecil namun juga dengan ketajaman analisis sosial yang jarang ditemukan dalam karya fiksi. Narasinya tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga menggugah intelektualitas pembaca. Setiap percakapan dalam novel ini terasa memiliki lapisan makna, mulai dari nilai kemanusiaan, moralitas, hingga perjuangan nasionalisme. Secara keseluruhan, Bumi Manusia adalah karya yang penting, bukan hanya bagi sastra Indonesia, tetapi juga sebagai dokumen historis dan ideologis tentang perjuangan identitas dan kebangsaan. Novel ini relevan hingga kini, mengingat isu ketidakadilan dan identitas masih menjadi bagian dari perdebatan sosial modern. Bagi siapa pun yang ingin memahami akar sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia, Bumi Manusia adalah bacaan yang wajib. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Gadis Kretek
Gadis Kretek Ratih Kumala Menjelang ajalnya, Soeraja—pengusaha kretek ternama—mengucapkan nama misterius: Jeng Yah. Tiga anaknya yang tak pernah mengenal nama itu pun tergugah mencari tahu siapa sebenarnya perempuan tersebut. Pencarian itu membawa sang anak bungsu, Lebas, menyusuri jejak masa lalu sang ayah yang ternyata menyimpan kisah cinta penuh luka dengan Dasiyah, seorang peracik kretek berbakat dari keluarga tradisional pembuat kretek. Di tengah bayang-bayang revolusi, persaingan industri, dan konflik ideologi, hubungan mereka kandas secara tragis. Kisah cinta mereka terhalang oleh ambisi, tradisi, dan pergolakan sejarah bangsa. Melalui perjalanan Lebas, terungkap pula betapa dalam luka sejarah yang diwariskan secara diam-diam dalam keluarga. Lebih dari sekadar roman, Gadis Kretek adalah kisah lintas generasi tentang cinta, warisan budaya, peran perempuan, dan sejarah Indonesia yang penuh gejolak, dengan kretek sebagai simbol perjuangan dan identitas. Review Ratih Kumala, lewat Gadis Kretek, tidak hanya menghadirkan roman yang menyentuh, tetapi juga merajutnya dengan benang sejarah, politik, dan budaya Indonesia. Ini adalah novel yang menyimpan kekuatan pada lapisan-lapisan narasinya, menjadikannya bukan sekadar bacaan ringan, tapi karya sastra yang memikat dan mencerahkan. Cerita bergerak melalui dua jalur waktu utama: masa kini, di mana Lebas berusaha memenuhi permintaan terakhir ayahnya; dan masa lalu yang penuh konflik personal dan nasional. Teknik penceritaan Ratih Kumala sangat efektif—menggunakan narator bergantian dan penggalan kenangan dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, pembaca dibimbing perlahan namun pasti memasuki lapisan-lapisan rahasia yang menyesakkan, menyedihkan, dan kadang marah. Tokoh-tokohnya kuat dan berkarakter. Dasiyah atau Jeng Yah bukan sekadar tokoh perempuan romantis. Ia adalah simbol kekuatan, kecintaan pada tradisi, dan keberanian melawan arus zaman. Dia berdiri di tengah dunia laki-laki dan industri kretek yang keras, tetapi tidak kehilangan keanggunannya. Sementara Soeraja digambarkan kompleks—ambisius, cinta, sekaligus pengecut. Konflik batin dan moralitasnya adalah refleksi dari banyak orang Indonesia pada masa transisi pasca-kemerdekaan. Salah satu keistimewaan novel ini adalah riset budaya yang kuat. Ratih Kumala menempatkan industri kretek bukan sekadar latar cerita, tetapi sebagai tubuh utama narasi. Pembaca akan belajar tentang seluk-beluk produksi kretek, filosofi racikan saus rahasia, serta nilai-nilai turun-temurun dalam industri keluarga. Namun di balik aroma tembakau dan cengkeh itu, tersimpan sejarah panjang penjajahan, perang, diskriminasi, dan pengkhianatan ideologi. Dari sisi gaya bahasa, Gadis Kretek tampil sederhana namun puitis. Ratih tidak menggurui saat membahas politik atau sejarah. Semua mengalir melalui pengalaman para tokohnya. Penggunaan bahasa Indonesia yang natural dengan sesekali sisipan istilah Jawa atau kosakata khas industri kretek memberi warna lokal yang kental tanpa kehilangan universalitas ceritanya. Secara keseluruhan, Gadis Kretek adalah novel yang menyentuh dan menggugah. Ia menyampaikan pesan tentang cinta, pengorbanan, budaya, dan luka sejarah dengan sangat manusiawi. Novel ini layak dibaca siapa pun yang ingin memahami bukan hanya kisah cinta lintas zaman, tetapi juga jiwa Indonesia itu sendiri. Tidak heran jika Gadis Kretek diadaptasi menjadi serial Netflix, karena kekayaan tematik dan visualnya sangat menjanjikan untuk dihidupkan dalam medium lain. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Marmut Merah Jambu
Marmut Merah Jambu Raditya Dika Marmut Merah Jambu adalah novel semi-otobiografi karya Raditya Dika yang menceritakan perjalanan cintanya dari masa sekolah hingga dewasa. Dalam gaya khasnya yang lucu dan nyeleneh, Dika menuturkan kisah-kisah cinta yang kerap berakhir canggung, lucu, atau menyakitkan. Salah satu kisah yang paling menonjol adalah tentang cinta diam-diam Dika pada sahabat perempuannya sendiri. Ia memendam perasaan selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar menyatakannya, hingga akhirnya hanya bisa mengenang dengan rasa pahit manis. Lewat cerita-cerita ini, pembaca diajak menertawakan kegagalan cinta, mengenang masa remaja yang lugu, dan merenungi arti kedewasaan dalam hubungan. Dika menunjukkan bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki untuk bisa berarti. Review Raditya Dika kembali menunjukkan keahliannya dalam mengemas pengalaman pribadi menjadi bacaan ringan yang sarat makna melalui novel Marmut Merah Jambu. Buku ini merupakan bagian dari rangkaian karya semi-otobiografi yang memadukan humor khas Dika dengan kisah nyata seputar pencarian cinta. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya seperti Kambing Jantan atau Cinta Brontosaurus yang lebih menekankan pada komedi situasional, Marmut Merah Jambu terasa lebih personal dan reflektif. Gaya penulisan Dika yang naratif dan lugas sangat terasa di buku ini. Ia seolah mengajak pembaca duduk santai sembari mendengarkan cerita masa lalu yang lucu, jujur, dan kadang menyakitkan. Diksi yang digunakan ringan dan komunikatif, membuat novel ini cocok untuk pembaca remaja maupun dewasa muda. Namun di balik kelucuan, tersimpan kerentanan emosional yang dalam—terutama saat Dika mengisahkan hubungannya dengan sahabatnya sendiri, yang menjadi benang merah utama dalam novel ini. Salah satu kekuatan Marmut Merah Jambu adalah kemampuannya membangkitkan rasa nostalgia. Pembaca diajak mengingat kembali masa-masa sekolah yang penuh cinta diam-diam, perasaan patah hati yang tidak tuntas, hingga upaya menjalin hubungan yang sering kali gagal karena ketidakdewasaan. Kisah-kisah ini tidak dikemas dengan dramatisasi berlebihan, tetapi justru mengandalkan kejujuran dan keabsurdan hidup itu sendiri, yang membuat pembaca bisa tertawa sekaligus merasa tersentuh. Secara tematik, novel ini menjawab keresahan anak muda tentang cinta yang tidak linear. Dika menyampaikan bahwa cinta tidak selalu harus berakhir bahagia, dan bahwa perasaan bisa tumbuh, surut, bahkan bertahan dalam diam. Pesan ini cukup kuat dan relevan, terutama bagi mereka yang masih belajar memahami relasi antarmanusia. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini juga digambarkan cukup beragam, menunjukkan dinamika emosi dan karakter yang tidak dangkal. Namun, seperti buku-buku Dika lainnya, ada kelemahan dalam kedalaman karakterisasi dan alur. Karena ditulis dalam format kumpulan cerita, transisi antarbagian kadang terasa terputus-putus. Pembaca yang mengharapkan narasi utuh dengan plot kuat mungkin akan sedikit kecewa. Tapi hal ini bisa dimaklumi, mengingat niat penulis bukan menyusun cerita fiksi konvensional, melainkan berbagi pengalaman pribadi yang penuh warna. Secara keseluruhan, Marmut Merah Jambu adalah novel ringan tapi bermakna yang menyuguhkan campuran lucu dan sendu secara seimbang. Ini bukan hanya tentang cinta yang gagal, tapi juga tentang perjalanan memahami cinta itu sendiri—dengan segala kebodohan, keberanian, dan penyesalan yang menyertainya. Bagi penggemar Raditya Dika atau pembaca yang ingin menikmati kisah cinta yang tidak klise, novel ini sangat layak dibaca. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*
Cantik Itu Luka
Cantik Itu Luka Eka Kurniawan Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik. Review Cantik Itu Luka adalah salah satu karya sastra kontemporer Indonesia yang paling menonjol dalam dua dekade terakhir. Ditulis oleh Eka Kurniawan, novel ini membuka kisahnya dengan adegan tak biasa: seorang perempuan bernama Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah dua puluh satu tahun meninggal dunia. Dari sana, pembaca langsung diajak menyelami dunia yang absurd, penuh ironi, dan dibalut dengan realisme magis. Lewat kisah Dewi Ayu dan keturunannya, Eka menelusuri sejarah Indonesia—dari masa kolonialisme hingga reformasi—dengan memusatkan narasi pada luka-luka yang diwariskan, terutama oleh dan kepada para perempuan. Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada gaya penulisan Eka yang kaya metafora, sarkasme, dan keberaniannya meramu antara sejarah, fiksi, dan unsur supranatural. Karakter-karakternya, terutama perempuan, ditulis dengan sangat kompleks dan tidak satu dimensi. Lewat mereka, Eka menyinggung banyak isu sosial: patriarki, kekerasan seksual, ketimpangan kelas, hingga absurditas kekuasaan. Walaupun struktur ceritanya tidak linear dan melompat-lompat dari satu tokoh ke tokoh lain, Eka berhasil menjaga benang merah kisahnya tetap utuh dan memikat. Namun demikian, novel ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa bagian narasi terasa terlalu bertele-tele dan bisa membuat pembaca yang tidak terbiasa dengan gaya realisme magis menjadi lelah. Selain itu, ada sejumlah penggambaran kekerasan dan seksual yang terasa eksplisit dan menimbulkan ketidaknyamanan. Walaupun konteksnya untuk memperlihatkan kebrutalan atau ironi, beberapa pembaca mungkin menilai hal ini terlalu vulgar atau repetitif. Di sisi lain, meskipun karakter perempuannya kuat dan dominan, ada kalanya penderitaan mereka terkesan terus-menerus dieksploitasi sebagai alat pendorong plot, bukan sebagai bentuk perlawanan aktif. Secara keseluruhan, Cantik Itu Luka adalah novel yang berani, penuh muatan kritik, dan menawarkan pengalaman membaca yang berbeda dari karya sastra Indonesia pada umumnya. Ia tidak mudah dicerna dalam sekali duduk, tetapi justru di situlah letak daya tariknya: menantang, mengganggu, dan memaksa pembaca untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif, tapi ikut merenung tentang sejarah, luka, dan makna kecantikan itu sendiri. Leave a Comment Cancel reply Logged in as avila elviana. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message*