Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaannya pun dikabulkan semesta. Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini. Biru.
Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru? Satu dari seribu, aku mau kamu. Adalah puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya. Satu dari seribu, memang harus kamu. Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya. Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.
Petjah karya Odi Sekar Ayu adalah kisah patah hati yang dibalut dengan nuansa magis dan puitis, tentang cinta yang tak terbalas, keajaiban semesta, dan pilihan hati yang menyakitkan. Nadhira mencintai Dimas, namun cintanya tidak pernah diinginkan. Saat semesta memberi satu kesempatan untuk mewujudkan keinginannya, Nadhira meminta Dimas—beserta hatinya. Permintaan itu dikabulkan, tetapi semesta, seperti biasa, tak pernah memberi tanpa konsekuensi. Kehadiran Biru, sosok yang tulus mencintai Nadhira, memperumit situasi emosional yang sudah rapuh. Dalam permainan takdir ini, Nadhira dihadapkan pada dilema antara cinta pertama yang selalu ia harapkan, dan cinta baru yang perlahan hadir dengan ketulusan.
Lewat gaya bahasa yang sederhana tapi menyayat, Odi Sekar Ayu menulis dengan jujur tentang patah hati yang tidak menggelegar, tapi diam-diam menghancurkan. Kalimat-kalimat dalam Petjah terasa seperti serpihan puisi yang bicara langsung pada hati—tentang harapan, kehilangan, dan ketidakpastian. Buku ini bukan hanya tentang cinta segitiga, tetapi tentang bagaimana semesta menguji batas hati seseorang. Untuk para pembaca yang pernah mencintai terlalu dalam, atau berharap pada sesuatu yang tak pernah pasti, Petjah akan terasa begitu dekat—dan menyakitkan.